Wednesday, September 4, 2013

SAYA TIDAK MENOLAK KONTES MISS WORLD DI INDONESIA???

Perhelatan Miss World tahun 2013, sudah berlangsung dan terlihat akan terus melaju hingga puncak. Sudah bukan menjadi berita baru lagi bahwa Indonesia menjadi tuan rumah ajang kontes kecantikan internasional yaitu Miss World  yang ke 65. Tanggal 28 September 2013, di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor-Jabar menjadi puncak acara perhelatan ratu sejagat bernama Miss World. Pendapat kontra mengenai perhelatan Miss World ini sudah sering kita dengar. Mulai dari eksploitasi perempuan, pelecehan martabat perempuan, hingga kapitalisasi dimana perempuan menjadi ikonnya.
Padahal sejarah mencatat bahwa di Amerika Serikat, perhelatan kontes kecantikan yang serupa dengan Miss World yaitu Miss America telah dikecam puluhan tahun silam oleh pegiat feminis. Bahkan usut punya usut bahwa Kontes Miss World di London, Inggris tahun 1970 sempat terganggu oleh adanya demostrasi dari kaum feminis yang melempari tepung, kotoran dan air saat perhelatan acara tersebut. Kontes kecantikan ini dianggap kuno dan secara politis tidak menggambarkan sosok perempuan khas Inggris. Dan atas pengaruh global sejak tahun 1998 acara ini berhenti ditayangkan di Channel 5 Inggris. Meskipun acara ini sudah mengglobal, tetapi justru di Inggris kontes ini menjadi tidak terlalu menarik.
Masih banyak yang bertanya kenapa kita warga Indonesia, khususnya perempuan, harus menolak ajang kontes kecantikan yang bernama Miss World  ini. Salah satu pertanyaan misalnya, kenapa kita tidak melarang ajang Putri Indonesia yang notabennya sama-sama kontes kecantikan? Adapula yang berpendapat bahwa ajang Miss World ini tidak masalah diadakan di Indonesia, asalkan mereka (kontestan) menghargai budaya timur kita, termasuk bagaimana cara berpakaian dan tidak ada kontes bikini segala.
Saya selaku penulis, sangat tidak menyetujui apapun bentuk dari kontes kecantikan. Baik itu Putri Indonesia, Mis Universe, Miss ASEAN, ataupun Miss World.
Seperti yang kita ketahui bahwa ajang Miss World ini hanyalah satu dari sekian banyak kontes kecantikan yang mengeksploitasi perempuan. Kontes semacam ini hanya berganti-ganti kulit saja. Beribu nama bisa tercetus, namun esensinya tetap sama. Bahkan pencitraan perempuan dengan mitos-mitos tertentu tentang kecantikan, sudah membanjiri pikiran terdalam kita melalui iklan, sinetron, dan lainnya. Kita mulai berstigma bahwa cantik itu haruslah putih, tinggi, langsing, dan berambut lurus. Lebih mengenaskannya lagi, mulai dari penyelenggara, peserta hingga penikmat iklan dan sinetron adalah orang Islam itu sendiri.  Ya! Tidak mengherankan lagi bahwa racun pembunuh bangsa bernama Miss World hanyalah satu dari sekian banyak kerusakan yang hendak disuntik perlahan kepada generasi dan penerus kita.
Berangkat dari peryataan beberapa orang mengenai ketidakmasalahannya mengenai ajang Miss World  di Indonesia dengan syarat tidak ada kontes bikini dan para kontestan menghargai budaya ketimuran yang ada di Indonesia, misalnya memakai kebaya dan sopan, saya selaku penulis berpendapat bahwa walaupun kontes ini memakai adat ketimuran dan tidak berbikini, tetap saja hal ini tidak bisa diterima! Kontes kecantikan ini bukan sekedar bikini belaka. Terlalu dangkal kalau kita berpikir dan menilai kontes ini hanya permasalahan bikini saja. Apapun “baju” dari kontes kecantikan itu, baik berupa Putri Indonesia, Miss Universe, Miss ASEAN, atau Miss World sekalipun, benang merahnya hanya satu yaitu mencari perempuan yang cantik secara fisik untuk diekploitasi karena itu sudah menjadi ideologi kontes kecantikan sejak dulu. Kontes kecantikan ini menyangkut ideologi.
Kontes kecantikan hanyalah stempel bagi legalisai eksploitasi tubuh perempuan agar tampak elegan. Kita bisa melihat sejarah dari Miss World ini yang awalnya merupakan Festival Kontes Bikini. Acara ini digelar untuk mengenalkan pertama kali pakaian renang pada waktu itu., dan para media menyebutnya "Miss World".
Kontes kecantikan dalam hal ini bernama Miss World, berasal dari cara pandang materialistik. Kontes kecantikan adalah bagian dari industri kapitalisme, dimana perempuan cantik menjadi ujung tombaknya untuk mendongkrak sebuah produk. Perempuan cantik menjadi ikon para sponsor yang terlibat dalam ajang tersebut, seperti produk pakaian, kosmetik, baju renang, dan sebagainya.


Indonesia Tuan Rumah?
Bukanlah hal yang kebetulan atau tidak disengaja mengenai terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan kontes Miss World ini. Setidaknya ada dua motif yang melatarbelakangi terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah ajang Miss World ke 65 ini.
Motif pertama adalah motif ideologis dimana kita semua mengetahui bahwa posisi Indonesia merupakan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Bahkan dalam percaturan global, negara kita ini semakin dipandang sebagai kiblat dunia muslim. Penerimaan Indonesia atas ajang Miss World ini tidak menutup kemungkinan akan meneguhkan opini bahwa Islam tidak mempermasalahkan eksistensi perempuan melalui kontes kecantikan. Hal inilah yang akan menjadi model bagi negeri-negeri Muslim lain agar lebih toleran dan terbuka terhadap kontes kecantikan. Dari situlah diperlihatkan mengenai pemahaman tentang kebebasan berekpresi dan gaya hidup hedonis. Pemenang kontes kecantikan kelak akan menjadi ikon bagi perempuan, termasuk muslimah dalam memandang makna kebahagiaan hidup yaitu kecantikan, kepopularitasan, dan materi yang berlimpah.
Motif kedua adalah motif ekonomis, dimana masyarakat Indonesia adalah pasar yang menggiurkan bagi penjualan berbagai komoditi. Pemegang hak siar, yang dalam hal ini adalah MNC TV, akan meraup pundi-pundi rupiah dalam jumlah banyak dari para pemasang iklan dan penjualan produk-produk para sponsor.
Kita bisa melihat bahwa akar masalah umatIslam ini bukanlah kurang Ilmu, melainkan kerancuan ilmu yang menyebabkan hilangnya ketepatan dalam menilai dan menempatkan seuatu. Kita kembali lagi ke pernyataan beberapa orang mengenai ketidakberatannya terhadap ajang miss World ini diselenggarakan di Indonesia asalkan dengan memakaiadat ketimuran dan tidak berbikini. Pernyataan tersebut adalah contoh realita umat Islam yang menggambarkan kerancuan cara pandang yang salah yaitu fenomena umat Islam dalam merespon kontes kecantikan Miss World 2013.
Sekalipun Miss World dijilbabin tetap saja salah! Karena kontes kecantikan seperti ini berangkat dari cara pandang yang salah tentang bagaimana menghargai perempuan. Dalam kontes semacam ini, perempuan dihargai dan dimuliakan kerena kecantikannya. Kecantikan mereka akan dinilai dan dipertontonkan. Meskipun ada slogan brain, beauty, behavior, tetap saja itu hanya embel-embel karena kecantikan tetap diunggulkan.
Kalau kita memakai cara pandang Islam, maka perempuan dihargai dan dihormati bukan karena kecantikannya melainkan karena keimanan, ketakwaan, dan sumbangsihnya bagi kebaikan dan perbaikan masyarakat tanpa embel-embel kontes ratu sejagat.
Kita pasti berpikir bahwa sudah terlambat jika kita menolak Miss World saat ini karena kontestan Miss World sudah mendarat dengan sempurna di Bali, Indonesia. Tapi tidak ada salahnya jika kita turun aksi menolak diadakannya puncakMiss World di Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
Kalau memang benar pada zaman Soeharto Putri Indonesia dilarang mengikuti ajang Miss Universe atau Miss World dengan alasan bahwa ajang itu bukan kebudayaan kita, maka SBY patut untuk mencontohnya!!!
#TOLAKMISSWORLDDIINDONESIA!!!
#TOLAKPUNCAKMISSWORLDDIBOGORJAWABARAT!!!



Rabu, 04 September 2013
Penulis adalah Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan
PW KAMMI Jabar 2013-2015

Zurniawati, S.Kep