Perhelatan Miss
World tahun 2013, sudah berlangsung dan terlihat akan terus melaju hingga
puncak. Sudah bukan menjadi berita baru lagi bahwa Indonesia menjadi tuan rumah
ajang kontes kecantikan internasional yaitu Miss World yang
ke 65. Tanggal
28 September 2013, di Sentul International Convention Center
(SICC) Bogor-Jabar menjadi puncak acara perhelatan ratu sejagat bernama Miss
World. Pendapat kontra mengenai perhelatan Miss World ini
sudah sering kita dengar. Mulai dari eksploitasi perempuan, pelecehan martabat
perempuan, hingga kapitalisasi dimana perempuan menjadi ikonnya.
Padahal
sejarah mencatat bahwa di Amerika Serikat, perhelatan kontes kecantikan yang
serupa dengan Miss World yaitu Miss America telah dikecam puluhan tahun
silam oleh pegiat feminis. Bahkan usut punya usut bahwa Kontes Miss World di London, Inggris tahun 1970 sempat terganggu
oleh adanya demostrasi dari kaum feminis yang melempari tepung, kotoran dan air
saat perhelatan acara tersebut. Kontes kecantikan ini dianggap kuno dan secara
politis tidak menggambarkan sosok perempuan khas Inggris. Dan atas pengaruh
global sejak tahun 1998 acara ini berhenti ditayangkan di Channel 5 Inggris.
Meskipun acara ini sudah mengglobal, tetapi justru di Inggris kontes ini
menjadi tidak terlalu menarik.
Masih banyak yang bertanya kenapa
kita warga Indonesia, khususnya perempuan, harus menolak ajang kontes kecantikan
yang bernama Miss World ini. Salah satu pertanyaan misalnya, kenapa
kita tidak melarang ajang Putri Indonesia yang notabennya sama-sama kontes
kecantikan? Adapula yang berpendapat bahwa ajang Miss World ini tidak masalah
diadakan di Indonesia, asalkan mereka (kontestan) menghargai budaya timur kita,
termasuk bagaimana cara berpakaian dan tidak ada kontes bikini segala.
Saya
selaku penulis, sangat tidak menyetujui apapun bentuk dari kontes kecantikan.
Baik itu Putri Indonesia, Mis Universe,
Miss ASEAN, ataupun Miss World.
Seperti yang kita ketahui bahwa ajang Miss World ini hanyalah satu dari sekian banyak kontes
kecantikan yang mengeksploitasi perempuan. Kontes semacam ini hanya
berganti-ganti kulit saja. Beribu nama bisa tercetus, namun esensinya tetap
sama. Bahkan pencitraan perempuan dengan mitos-mitos tertentu tentang
kecantikan, sudah membanjiri pikiran terdalam kita melalui iklan, sinetron, dan
lainnya. Kita mulai berstigma bahwa cantik itu haruslah putih, tinggi,
langsing, dan berambut lurus. Lebih mengenaskannya lagi, mulai dari
penyelenggara, peserta hingga penikmat iklan dan sinetron adalah orang Islam
itu sendiri. Ya! Tidak mengherankan lagi
bahwa racun pembunuh bangsa bernama Miss World hanyalah satu dari
sekian banyak kerusakan yang hendak disuntik perlahan kepada generasi dan
penerus kita.
Berangkat dari peryataan beberapa orang mengenai
ketidakmasalahannya mengenai ajang Miss
World di Indonesia dengan syarat
tidak ada kontes bikini dan para kontestan menghargai budaya ketimuran yang ada
di Indonesia, misalnya memakai kebaya dan sopan, saya selaku penulis
berpendapat bahwa walaupun kontes ini memakai adat ketimuran dan tidak
berbikini, tetap saja hal ini tidak bisa diterima! Kontes kecantikan ini bukan sekedar bikini belaka.
Terlalu dangkal kalau kita berpikir dan menilai kontes ini hanya permasalahan
bikini saja. Apapun “baju” dari kontes kecantikan itu, baik berupa Putri
Indonesia, Miss Universe, Miss ASEAN, atau Miss World sekalipun, benang merahnya hanya satu yaitu mencari
perempuan yang cantik secara fisik untuk diekploitasi karena itu sudah menjadi
ideologi kontes kecantikan sejak dulu. Kontes kecantikan ini menyangkut ideologi.
Kontes kecantikan hanyalah stempel bagi legalisai
eksploitasi tubuh perempuan agar tampak elegan. Kita bisa melihat sejarah dari Miss World ini yang awalnya merupakan Festival
Kontes Bikini. Acara ini digelar untuk mengenalkan pertama kali pakaian renang
pada waktu itu., dan para media menyebutnya "Miss
World".
Kontes kecantikan dalam hal ini bernama Miss World, berasal dari cara pandang materialistik.
Kontes kecantikan adalah bagian dari industri kapitalisme, dimana perempuan
cantik menjadi ujung tombaknya untuk mendongkrak sebuah produk. Perempuan
cantik menjadi ikon para sponsor yang terlibat dalam ajang tersebut, seperti
produk pakaian, kosmetik, baju renang, dan sebagainya.
Indonesia Tuan Rumah?
Bukanlah hal yang kebetulan atau tidak disengaja
mengenai terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan kontes Miss World ini. Setidaknya ada dua motif
yang melatarbelakangi terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah ajang Miss World ke 65 ini.
Motif pertama adalah motif ideologis dimana kita
semua mengetahui bahwa posisi Indonesia merupakan negara yang berpenduduk
Muslim terbesar di dunia. Bahkan dalam percaturan global, negara kita ini semakin
dipandang sebagai kiblat dunia muslim. Penerimaan Indonesia atas ajang Miss World ini tidak menutup kemungkinan
akan meneguhkan opini bahwa Islam tidak mempermasalahkan eksistensi perempuan
melalui kontes kecantikan. Hal inilah yang akan menjadi model bagi
negeri-negeri Muslim lain agar lebih toleran dan terbuka terhadap kontes
kecantikan. Dari situlah diperlihatkan mengenai pemahaman tentang kebebasan
berekpresi dan gaya hidup hedonis. Pemenang kontes kecantikan kelak akan
menjadi ikon bagi perempuan, termasuk muslimah dalam memandang makna
kebahagiaan hidup yaitu kecantikan, kepopularitasan, dan materi yang berlimpah.
Motif kedua adalah motif ekonomis, dimana masyarakat
Indonesia adalah pasar yang menggiurkan bagi penjualan berbagai komoditi.
Pemegang hak siar, yang dalam hal ini adalah MNC TV, akan meraup pundi-pundi
rupiah dalam jumlah banyak dari para pemasang iklan dan penjualan produk-produk
para sponsor.
Kita bisa melihat bahwa akar masalah umatIslam ini
bukanlah kurang Ilmu, melainkan kerancuan ilmu yang menyebabkan hilangnya
ketepatan dalam menilai dan menempatkan seuatu. Kita kembali lagi ke pernyataan
beberapa orang mengenai ketidakberatannya terhadap ajang miss World ini diselenggarakan di Indonesia asalkan dengan
memakaiadat ketimuran dan tidak berbikini. Pernyataan tersebut adalah contoh
realita umat Islam yang menggambarkan kerancuan cara pandang yang salah yaitu
fenomena umat Islam dalam merespon kontes kecantikan Miss World 2013.
Sekalipun Miss
World dijilbabin tetap saja salah! Karena kontes kecantikan seperti ini
berangkat dari cara pandang yang salah tentang bagaimana menghargai perempuan.
Dalam kontes semacam ini, perempuan dihargai dan dimuliakan kerena
kecantikannya. Kecantikan mereka akan dinilai dan dipertontonkan. Meskipun ada
slogan brain, beauty, behavior, tetap
saja itu hanya embel-embel karena kecantikan tetap diunggulkan.
Kalau kita memakai cara pandang Islam, maka
perempuan dihargai dan dihormati bukan karena kecantikannya melainkan karena
keimanan, ketakwaan, dan sumbangsihnya bagi kebaikan dan perbaikan masyarakat
tanpa embel-embel kontes ratu sejagat.
Kita
pasti berpikir bahwa sudah terlambat jika kita menolak Miss World saat ini karena kontestan Miss World sudah mendarat dengan sempurna di Bali, Indonesia. Tapi tidak
ada salahnya jika kita turun aksi menolak diadakannya puncakMiss World di Bogor, Jawa Barat,
Indonesia.
Kalau memang benar pada zaman Soeharto Putri
Indonesia dilarang mengikuti ajang Miss Universe atau Miss World dengan alasan
bahwa ajang itu bukan kebudayaan kita, maka SBY patut untuk mencontohnya!!!
#TOLAKMISSWORLDDIINDONESIA!!!
#TOLAKPUNCAKMISSWORLDDIBOGORJAWABARAT!!!
Rabu, 04 September 2013
Penulis adalah Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan
PW KAMMI Jabar 2013-2015
Zurniawati, S.Kep
oke...makin eksist teh..^_^
ReplyDelete